Mailing List GKP

Tentang GKP
Lingkung GKP
Klasis Purwakarta
Klasis Bogor
Klasis Priangan
Klasis Jakarta
Klasis Cirebon
Lembaga
Lain-lain

GKP Tangerang

Alamat: Jalan Dr. Sitanala no. 20, Sewan Deo Tangerang
Telepon: Pastori: 021-55761282

DATA DAN SEJARAH GKP JEMAAT TANGERANG

A. DATA JEMAAT
* Berdiri Jemaat
  -Tanggal/Bulan /Tahun  : 18 April 1996
  -Usia Jemaat	         : 9 Tahun
* Jumlah KK		 : 50 KK /183 Jiwa
* Jumlah Anggota Baptis	 : 110 jiwa
* Jumlah Anggota Sidi	 : 73 jiwa

B. PERIBADATAN

Kebaktian Umum (Minggu)  :  I  Pkl.:     07.30 s/d 09.00
a. Kebaktian Rumah Tangga
   Hari: Rabu           Pkl.: 19.00 s/d 20.30
b. Kebaktian SMKA 
   Minggu,              Pkl.: 07.30 s/d 09.00
c. Keb. Pemuda/Remaja (dua minggu sekali)
   Hari : Sabtu         Pkl.: 18.00 s/d 19.30
d. Keb. Wanita (dua minggu sekali)
   Hari : Sabtu         Pkl.: 18.00 s/d 19.30
e. Keb. Pria (dua minggu sekali) 
   Hari : Sabtu         Pkl.: 18.00 s/d 19.30

C. SEJARAH (singkat) JEMAAT

Pemberitaan Injil di daerah Tangerang dimulai pertengahan abad ke 19. Pada tahun 1855 seorang utusan Injil dari Lembaga Penginjil Tukang (Zendeling Werkman) bernama Sperhack, bekerja di Tangerang yang waktu itu sedang ikut membangun sebuah bangunan penjara. Sambil bekerja, ia mengabarkan Injil kepada penduduk setempat. la juga mendirikan sebuah sekolah. Kemudian masuk pula beberapa orang penginjil Anthing (penginjil yang diutus oleh Mr. F.L Anthing). Melalui pekerjaan Sperhack dan para pengmji! Anthing, terbentuklah beberapa komunitas Kristen di Tangerang dan sekitarnya, yaitu di Tanah Tinggi (Poristapel), Ciater (di Serpong), Bolang, dan Kresek. Agaknya orang-orang yang menjadi Kristen itu adalah orang-orang Tionghoa. Setelah Sperhack meninggalkan Tangerang karena tugas di tempat lain, persekutuan yang terbentuk oleh pekerjaannya, selanjutnya diurus para penginjil Anthing.

Jemaat-jemaat Anthing mulai tahun 1885 masuk ke dalam lingkungan pekerjaan Nederlandse Zendings Vereninging (NZV), termasuk pula yang ada di Wilayah Tangerang. Mula-mula diurus oleh C. ALBERS yang berkedudukan di Jatinegara. Pada tahun 1889 L. TIEMERSMA dipindahkan dari Bogor ke Tangerang. la bekerja di Tangerang selama beberapa tahun. la menaruh harapan yang besar dalam upaya pekabaran Injil di kalangan orang-orang Tionghoa, tetapi agaknya sampai ia meninggalkan Tangerang, harapan itu belum dapat terwujud. Waktu itu umumnya orang Tionghoa belum tertarik pada Berita Injil.

Setelah L. TIEMERSMA berangkat dari Tangerang, kembali persekutuan umat Kristen Tangerang diurus dari Jatinegara. Kita tidak tahu bagaimana perkembangan selanjutnya, karena tidak ditemukan catatan tentang perkembangan kekristenan di masa itu. Tetapi kita dapat menduga walau tidak terjadi perkembangan, kekristenan tetap ada di Tangerang. Keadaan kekristenan baru dapat kita ketahui kembali sekitar tahun 1940-an. Pada waktu itu sudah ada dua buah Gereja dari aliran Pantekosta.

Sekitar tahun 1947 ada beberapa keluarga Kristen yang berasal dari lingkungan GKP, antara lain keluarga SINTA PIASAMBE, Keluarga MIAN PETRUS, Keluarga ANDREAS PETRUS, Keluarga FILIPUS PETRUS, dan Keluarga WARTA ELIA. Karena di Tangerang belum ada jemaat GKP, beberapa orang berkebaktian di Gereja Pantekosta yang dipimpin oleh Pdt. Silooy. Namun mereka rindu untuk mengadakan persekutuan GKP. Kerinduan itu terwujud sekitar tahun 1948 ketika keluarga ALIPAS NIMAN datang di Tangerang. Biliau adalah Kepala Sekolah S.R. 4 Tangerang (Sekolah Rakyat 4 Tangerang). Kemudian datang pula keluarga Samuels dan beberapa keluarga lain yang bergabung ke dalam persekutuan GKP itu. Kebaktian dilakukan di rumah-rumah mereka secara bergantian. Dalam perkembangan selanjutnya mulai tahun 1950 kebaktian dilakukan di S.R. 4.

Sementara itu terjadi hubungan dengan Pdt PHILIPUS SAIMAN dari GKP Jemaat "Bethany" Tanah Tinggi yang waktu itu juga melayani GKP Jemaat Rangkasbitung. Juga kemudian kebaktian dilayani oleh Pdt P. TAKALELUMAN, Dr.C.L. van DOORN, Pdt. MAAT RIKIN, Guru Injil EFRAIM RIKIN (kemudian hari ditahbiskan menjadi pendeta Jemaat GKP Cawang).

Baptisan pertama terjadi pada tanggal 7 November 1948 yang dilayani oleh Pdt. PHILIPUS SAIMAN. Yang dibaptis adalah Atmadja Petrus, anak keluarga Philipus Petrus, dan Eriana, anak Keluarga Sinta Piasambe.

Di atas telah dikemukakan bahwa karena pertambahan jumlah warga, mulai tahun 1950 kebaktian dilakukan di salah satu ruangan S.R. 4 Tangerang. Persekutuan inipun menggabungkan diri ke GKP Jemaat Tanah Tinggi. Setelah berjalan sekitar 6 Tahun, mereka harus pindah dari S.R. 4. Kebaktian dilakukan di rumah keluarga S. Piasambe di Kompleks asrama PMI.

Dengan perkembangan jumlah anggota jemaat yang terus bertambah, rumah keluarga Piasambe tidak bisa lagi menampung untuk berkebaktian. Sebab itu mereka mengajukan permohonan kepada pimpinan Kantor Departemen Kahakiman di Wilayah Tangerang untuk dapat memperoleh sebidang tanah yang terletak di jalan Taman Pahlawan. Permohonan itu dikabulkan oleh pihak yang berwewenang. Di atas tanah itu didirikanlah sebuah bangunan rumah kebaktian (gedung gereja).

Perkembangan jemaat ini tentu sangat menggembirakan. Tetapi sebagian besar warga jemaat berasal dari gereja-gereja bukan GKP. Sebab itu mulai muncul keinginan untuk tidak lagi menjadi bagian GKP, tetapi GPIB.Keinginan itu semakin kuat, sehingga dalam salah satu rapat pimpinan jemaat, diputuskan untuk bergabung dengan GPIB. Dari sekian jumlah anggota pimpinan jemaat (Majelis Jemaat) hanya satu orang yang bertahan untuk tetap di GKP, yaitu Bpk. S. Piasambe. Pada waktu itu keluarga Alipas Niman sudah pindah ke Bekasi.

Warga jemaat yang tetap setia pada GKP di bawah pimpinan Bpk. S. Piasambe memisahkan diri dan berkebaktian di rumah Bpk. S. Piasambe di Jl. Mawar daerah Pasar Anyar. Mereka adalah -keluarga S. Piasambe, Keluarga Mian Petrus, Keluarga Samuels, Keluarga Ny. Tan Ester (berasal dari GKP Cikampek), keluarga Warta Elia, Keluarga Kaslan. Pada tahun 1963 jumlah anggota bartambah lagi dengan kedatangan keluarga D. Sadjoeri dari GKP Jemaat Tanah Tinggi, Jakarta. Dengan kedatangan Keluarga D. Sadjoeri jumlah Kepala Keluarga ada 7 KK dengan 18 anggota sidi dan 41 anggota baptis. Persekutuan ini tetap bergabung dengan GKP Jemaat Tanah Tinggi dipimpin oleh Bpk. S. Piasambe sebagai Guru Injil.

Sekitar tahun 1965 terjadi konflik antara pimpinan persekutuan GKP ini dengan salah seorang warga jemaat Bahkan kemudian keluarga S. Piasambe pindah ke Palembang. Sementara itu di lingkungan gereja-gereja di Tangerang tersebar berita bahwa persekutuan GKP Tangerang sudah bubar. Untuk menangkal berita tersebut, atas dukungan seluruh warga jemaat, para pemuda bergerak memberi penjelasan kepada gereja-gereja di kota Tangerang bahwa persekutuan GKP Tangerang masih tetap ada. Mereka mengirim surat ke semua gereja di Tangerang yang waktu itu masih sedikit (sekitar 6 gereja) untuk menjelaskan bahwa berita yang tersebar mengenai telah bubarnya persekutuan GKP di Tangerang tidak benar. Persekutuan GKP masih tetap ada dan berkebaktian di rumah Keluarga Mian Petrus di Sewan. Pada waktu itu di persekutuan GKP masih ada 4 Keluarga, yaitu Keluarga D. Sadjoeri, Keluarga Mian Petrus, Keluarga Samuels dan Keluarga Kaslan, dengan 16 anggota sidi dan 29 anggota Baptis. Keluarga Ny. Tan Ester masuk ke GKI Jabar dan agaknya juga Keluarga Elia ikut berkebaktian di GKI Jabar.

Tempat kebaktian masih mengalami perpindahan dari satu tempat ke tempat lain sampai akhirnya bertempat di tempat yang sekarang. Kebaktian di rumah Keluarga Mian Petrus berlangsung sekitar 2 tahun. Karena akan direnovasi, pada tahun 1968 kebaktian dilakukan di rumah keluarga D. Sadjoeri di Kompleks Sekolah Teknik Tangerang (di Babakan). Perayaan Natal dilakukan di gedung Sekolah Teknik yang waktu itu dipimpin oleh Bpk. D. Sadjoeri. Dan pada tahun 1970 tempat kebaktian berpindah lagi ke rumah Bpk. Dodo Djenal Asikin di Kompleks SMPT Tangerang (di Babakan).

Di atas telah dikemukakan bahwa sebagai bagian dari wilayah pelayanan GKP Jemaat Tanah Tinggi, Tangerang dilayani oleh Pdt. Philipus Saiman. Pada tahun 1972 beliau memasuki masa emiritus dan digangtikan oleh Pdt. Djoni Sumaryo Abednego, S.Th. Pada masa pelayanan pendeta Djoni S. Abednego, S.Th. dalam rangka penyesuaian dengan ketentuan Tata Gereja GKP, sebutan untuk persekutuan warga GKP di Tangerang adalah Pos Kebaktian GKP Tangerang.

Perlu dikemukakan bahwa sejak masa pelayanan Pdt Philipus Saiman, Pos Kebaktian Tangerang juga melayani persekutuan warga Kristen yang berkebaktian di Kompleks R.S. Kusta Sitanala. Bahkan peranan GKP cukup besar, sehingga persekutuan itu disebut sebagai ranting dan cabangnya adalah Pos GKP Tangerang dan induknya adalah GKP Jemaat Tanah Tinggi. Kemudian persekutuan ini dilayani bersama oleh beberapa gereja, Kini sudah berstatus sebagai POUK yang berada di lingkungan pembinaan PGI Wilayah Banten.

Harus pula dicatat peranan pemuda dalam kehidupan persekutuan jemaat. Tatkala terjadi krisis di tengah persekutuan jemaat sehingga muncul berita bahwa persekutuan GKP di Tangerang sudah bubar, pemudalah yang bergerak atas dukungan warga jemaat menjelaskan kepada gereja-gereja di Tangerang bahwa persekutuan GKP masih tetap ada. Mereka cukup berperan dalam kehidupan jemaat. Juga mereka pun giat dalam persektuan Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Tangerang, di samping juga di lembaga kepemudaan di tengah masyarakat. Tatkala dibuka kompleks gedung BK3 (Badan Kerjasama Kegiatan Kristen) di jalan Kebon Jahe, mereka juga ikut ambil bagian dalam usaha kerja bakti. Begitu pula ketika Masjid Agung Tangerang di bangun, melalui lembaga kepemudaan masyarakat, mereka ikut bekerja bakti. Hubungan para pemuda antar gereja di Tangerang pun cukup akrab dan hidup.

Di samping para pemuda, tentu saja segenap unsur dalam kehidupan persekutuan jemaat, seperti kaum wanita, memperlihatkan persekutuan yang hidup dan dinamis. Ketika itu, tatkala jumlah gereja-gereja di kota Tangerang masih sedikit (GKP, GKI, GPIB, Gereja Pantekosta, Gereja Yesus Sejati dan Gereja Khatolik), GKP cukup dihormati sebagai gereja setempat dan diharapkan sebagai penggerak dari berbagai kegiatan. Bahkan ketika lembaga kebersamaan antar gereja di Tangerang dibentuk, yaitu BK3, GKP menjadi salah satu pendirinya bersama-sama dengan 6 orang gereja lainnya di kota Tangerang. Bahkan salah seorang warga GKP, yaitu Bpk. D. Soedjari, ditunjuk sebagai sekretaris. Sama seperti para pejabat BK3 lainnya, jabatan sekretaris ini masih tetap disandangnya sampai akhir hayatnya tahun 2003.

Persekutuan jemaat sudah lama merindukan sebuah tempat kebaktian yang menetap. Harapan itu terpenuhi ketika Bpk. D. Sadjoeri menghibahkan sebidang tanah seluas 230 M2 (kelak di tambah lagi sehingga sekarang luasnya adalah 300 m2). Untuk mengumpulkan dana bagi pembangunao tempat kebaktian, pada bulan Agustus 1978 jemaat mengadakan bazar. Dari bazar itu terkumpul uang sejumiah Rp. 82.000.00,-(delapan puluh dua ribu rupiah) dan dijadikan sebagai moda! awal.

Dengan modal awal sebesar itulah rumah ibadah itu mulai dibangun. Peletakan batu pertama dilakukan oleh Pdt Djoni Sumaryo Abednego, S.Th. Dan tenyata setelah usaha pembangunan itu dimulai, banyak orang dari luar jemaat yang tergerak untuk memberikan bantuan, baik berupa dana maupun berupa bahan bangunan, seperti kayu, tripleks, genting, dll.

Dalam waktu singkat tempat kebaktian itu (gedung gereja) dapat diselesaikan pada bulan Desember 1978, kecuali lantainya yang belum di-ubin. Walaupun belum di-ubin gedung Gereja itu diresmikan pada tgl. 25 Desember 1978. Peresmian dilakukan oleh Lurah Neglasari, yaitu Bapak Serma (Kav.) Agus, dan disaksikan oleh tokoh-tokoh masyarakat sekitar. Gedung gereja yang baru diresmikan itu dipakai untuk merayakan hari Natal Jemaat

Yang menarik dalam proses pembangunan gedung gereja itu ialah dukungan dari berbagai pihak, baik dari kalangan gereja maupun dari luar kalangan bukan-Kristen. Mereka membantu baik secara material maupun dengan tenaga. Murid-murid Sekolah Teknik Negeri ikut bekerja bakti, begitu pula masyarakat sekitar yang juga ikut bekerja bakti dalam usaha pembangunan itu. Bahkan pada waktu pembangunannya, ada upaya saling berbagi dengan pembangunan Mesjid yang dibangun tidak berapa jauh dari lokasi pembangunan gedung gereja. Upaya saling berbagi itu antara lain berupa kayu dan genting. Misalnya, bilamana Panitia Pembangunan Gedung Gereja berlebih dalam persediaan genting, kelebihan itu diberikan kepada Panitia Pembangunan Mesjid, dan sebaliknya, Panitia Pembangunan Gedung Gereja pun menerima material lainnya dari Panitia Pembangunan Mesjid. Dengan saling berbagi itu ketika selesai pembangunan gedung gereja, selesai pula pembangunan Mesjid.

Setelah berjalan 15 tahun lamanya, perlu dilakukan rehabilitasi. Ternyata kemudian terjadi perombakan total yang menelan biaya sebesar Rp. 33.000.000,-(tigapuluh tiga juta rupiah). Pada tgl. 25 Desember 1994. Diresmikanlah gedung gereja yang baru direhabilitasi itu oleh Pdt Chita R. Baiin, S.Th., yang waktu itu menjabat Sekretaris Umum BP Sinode GKP.

Karena Pdt Djoni Sumaryo Abednego, S.Th., dipersiapkan untuk menjadi tenaga penuh waktu di lembaga Binalitbang Sinode GKP, maka GKP Jemaat Tanah Tinggi memanggil Sdr. Edward Tureay, S.Th. yang baru menyelesaikan studinya di STT Jakarta. Beliau memasuki masa vikariat sekitar tahun 1993 dan ditahbiskan menjadi Pendeta jemaat pada tgl. 31 Maret 1995. Dengan demikian setelah Pdt Djoni Sumaryo Abednego, S.Th. bertugas di tempat/bidang pelayanan yang baru, maka Pos Kebaktian GKP Tangerang dilayani oleh Pdt Edward Tureay, S.Th.

Sementara itu, Pos Kebaktian GKP Tangerang sudah semakin berkembang dan sudah memenuhi persyaratan untuk menjadi sebuah jemaat yang mandiri. Setelah seluruh persiapan rampung, pada tgl. 18 April 1996 Pos Keb. GKP Tangerang diresmikan menjadi GKP Jemaat Tangerang, dan sekaligus pada waktu itu juga ditetapkan lembaga kepemimpinan yaitu Majelis Jemaat. Sebagai pendeta konsulen ditetapkan Pdt. Edward Tureay, S.Th.

Sebagai sebuah jemaat, tentu saja diperlukan kehadiran seorang pendeta. Kebutuhan itu dapat terpenuhi dengan pemanggilan Pdt. Koernia Atje Soedjana, D.Th., untuk menjadi pendeta jemaat GKP Tangerang. Pada tanggal 26 Juni 1998, Pdt. Koernia Atje Soedjana, D.Th. diresmikan menjadi pendeta GKP Jemaat Tangerang. Sebenarnya sudah ada seorang vikaris, yaitu Vik. Rasima, S.Th. Tetapi beliau tidak meneruskan masa vikariatnya di GKP Jemaat Tangerang. Beliau melanjutkan masa vikariatnya di Pos Keb. Cigugur, Cirebon.

Karena Pastori yang tersedia tempatnya cukup jauh dan tidak bisa menampung keluarga pendeta. Majelis Jemaat memutuskan untuk meminjamkan rumah warga jemaat yang terletak di dekat gedung gereja, yaitu rumah keluarga Kusnandar Sulaeman. Sementara itu jemaat berusaha untuk membangun sebuah pastori di dekat gedung gereja.

Kerinduan tersebut dapat terwujud setelah Bpk. D. Sadjoeri menghibahkan tanahnya di depan gedung gereja yang waktu itu dipakai sebagai pelataran parkir. Dengan tetap mempertahankan bagian bawah sebagai tempat parkir, dibangun-lah sebuah pastori (tempat parkir tersebut sekarang ini dipakai juga sebagai ruang pertemuan jemaat dan setiap hari Minggu dipakai juga sebagai tempat kebaktian anak-anak/Sekolah Minggu.

Sebagai modal awal pembangunan pastori itu, dipakai uang hasil penjualan pastori lama. Peletakan batu pertama pembangunan sebagai pertanda dimulainya pekerjaan pembangunan itu dilakukan pada hari Sabtu, tgl. 21 April 2001. Pada kesempatan itu hadir wakil dari Badan Pelaksana Klasis GKP Wilayah Jakarta, yaitu Bpk. Richard Petta. Juga hadir Pdt. Edward Tureay, S.Th. Bulan Desember 2001 pekerjaan pembangunan selesai kecuali belum di-ubin tetapi sudah dapat digunakan. Pada Tgl. 14 Desember 2001 pastori tersebut diresmikan oleh wakil dari Badan Pelaksana Klasis GKP Wilayah Jakarta, yaitu Bapak D. Sitompul. Yang menarik dalam pekerjaan pembangunan ini adalah semangat kebersamaan dari warga jemaat GKP Tangerang. Semangat kebersamaan itu bukan saja ditunjukkan dalam hal upaya pencarian dana, tetapi juga dalam hal-hal yang lain. Misalnya, setiap hari selama berlangsungnya pembangunan, kaum ibu secara bergiliran menyediakan makanan setiap hari bagi para pekerja bangunan. Pada saat pengecoran lantai pastori, warga jemaat mengadakan kerja bakti mengangkat ember-ember berisi bahan coran secara estafet dari bawah ke atas. Selama bekerja bakti itu makanan disediakan oleh warga jemaat secara bersama-sama. Saat ini, Gembala Jemaat di GKP Jemaat Tangerang adalah Pdt. Tri Hartono, yang sebelumnya melayani di GKP Jemaat Kampung Tengah.

Sumber: Buku Peresmian Emiritasi Pdt. KoerniaAtje Soedjana, D.Th (Juli 2003)