![]() |
GKP RangkasbitungAlamat: Jalan Sunan Kalijaga no.5 Rangkasbitung 42311 Pos Kebaktian Teluk Lada Pos Kebaktian Bumi Maja Wiratama DATA DAN SEJARAH GKP JEMAAT RANGKASBITUNG
B. PERIBADATANKebaktian Umum (Minggu) :Pkl.:09.30 s/d 11.00 a. Kebaktian Rumah Tangga Hari: Rabu Pkl.: 19.30 b. Kebaktian SMKA Minggu, Pkl.: 07.30 s/d 09.00 c. Keb. Pemuda/Remaja Hari: Sabtu Pkl.: 19.00 s/d 21.00 d. Keb. Wanita Hari : Jumat Pkl.: 17.00 s/d 18.30 f. Keb. Lansia (Minggu ke II) Hari:Sabtu Pkl.: 10.00 s/d 12.00 C. SEJARAH (Singkat) JEMAATOrang mengatakan bahwa bahwa daerah Banten adalah daerah tertutup bagi Pekabaran Injil (PI). Hal ini mungkin disebabkan karena masyarakatnya yang fanatik, sehingga Pemerintah Hindia Belanda memandang berbahaya, jika Injil dikabarkan di dearah ini, supaya tidak menggangu ketentraman masyarakat Sebenarnya hal ini tergantung dari siapa yang memegang pimpinan Pemerintahan pada waktu itu, dalam hal ini Gubernur Jendral. Hal ini ternyata pada zaman Mr. Anting (seorang Peninil Belanda). Beliau telah diijinkan dan telah berusaha pula mengabarkan Injil di daerah ini, tetapi hingga beliau wafat Pekerjaan beliau kemudian dilanjutkan oleh murid-muridnya, Saat itu, belum ada penginjilan maupun pengikut Kristus seorang pun yang asli berasal dari daerah ini. Hal ini berlangsung sampai tahun 1890. Setelah NZV mempunyai jumlah pekerja yang agak cukup banyak, maka besteur NZV mengambil keputusan, agar sebelum tahun 1896 tiba, di daerah tersebut sudah didirikan sekurang-kurangnya satu buah pos Evangelist. Pada tanggal 10 November 1893, BM Alkema dan Tuan Ant A. Pennings bersama istrinya masing-masing telah tiba di Batavia (Betawi). Tn. BM. Alkema kemudian melanjutkan perjalanannya ke Bandung dimana beliau ditempatkan, sedangkan Tn. Ant. A. Pennings menuju Banten. Ketika di Tangerang Tn. Ant. A. Pennings berjumpa dengan seorang pembantu bernama Laban Djalimun, yang baru selesai belajar dari Seminari di Depok dan oleh Tn. L. Tiemersma untuk sementara ditempatkan di Maja. Kemudian mereka bersama-sama meninjau daerah Banten. Dalam peninjauan mereka yang kedua kalinya pada bulan maret 1894, Tn. Ant. A Pennings memutuskan untuk menetap di Lebak, Banten Selatan, yang ketika itu, ibukota Kabupaten Lebak tidak jauh dari daerah Baduy Leuwidamar (Leuwidahu). Anggota di pos ini terdiri dari 13 orang. Salah satu keluarga berasal dari Djengkol/Cikuya, pembantu Laban Djalimun dengan istrinya yang berasal dari Pengharepan (Elkanah Markasan?) dan beberapa orang dari Gunung Putri. Setelah rumah zendeling selesai, demikian juga rumah-rumah tempat tinggal anggota-anggota, maka Laban bekerja di sekolah dan Ny. Pennings mengajar anak-anak perempuan Kristen dalam pekerjaan rumah tangga,. Di samping itu Tn. Pennings memberikan pula obat-obatan pada penduduk sekitar. Sebagaimana pekerjaan yang pertama-tama oleh Tn. Pennings, maka pada tanggal 21 Juli 1895 beliau membaptiskan seorang wanita bernama Mariah bersama anaknya yang berumur 9 tahun bernama Layar Kasim. Mungkin selama itu kebaktian-kebaktian dilakukan di rumah Tn. Pennings sendiri. Namun kemudian karena ada kumungkinan-kemungkinan melebarkan kerajaan Tuhan di sini, maka pada tahun 1895 didirikanlah sebuah bangunan gereja. Bangunan itu dibuka resmi bertepatan dengan hari Natal tahun 1895. Pada hari Natal tahun berikutnya (1896) anggota bertambah lagi dengan dibaptisnya 3 orang, diantaranya bernama Masiin, bujangnya Tn. Pennings. Demikian halnya pada tanggal 20 Juni 1897 dibaptis lagi seorang yang beraama Djainun. Dalam kunjungan-kunjungan Tn. Pennings ke Serang pada bulan Agustus 1897, maka kesempatan ini dipergunakan juga oleh Tn. Pennings untuk meminta sumbangan-sumbangan guna mendirikan sebuah rumah sakit. Pada tahun berikutnya, 1898 bangunan rumah sakit telah selesai. Sebenamya bukanlah hanya sekedar memberikan pertolongan begitu saja kepada mereka yang datang ke rumah sakit, melainkan bangunan ini dipakai juga untuk mengabarkan Injil, dan inilah yang menjadi tujuan pokok. Hal ini ternyata membawa hasil ditandai dengan telah dipetik buah-buah karya pelayanan, antara lain dengan dibaptisnya seorang wanita pada tanggal 2 Oktober 1898. Sementara itu, pada tahun 1899, Tn. Pennings mendirikan sebuah bangunan di Rangkasbitung. Di tempat ini beliau mengharapkan akan dapat mengadakan kebaktian. Sekolah juga didirikan di Lebak dan mempunyai murid-murid yang bukan Kristen. Jumlah murid semuanya ada 10 orang, 4 diantaranya perempuan. Sampai akhir tahun 1899 anggota berjumlah 31 orang, diantaranya adalah anggota Sakramen (sudah di Baptis). Tn. Pennings seringkali ke Tangerang untuk mewakili pekerjaan Tn. L. Tiemersma yang bekerja di Tangerang apabila Tn. L. Tiemersma cuti. Sebagaimana dikatakan pada permulaan riwayat jemaat ini, bahwa rakyat Banten fanatik, karena itu banyak orang Kristen ditakut-takuti dan diancam. Maka tidaklah heran kalau ada orang yang sudah menjadi Kristen ada yang keluar kembali. Karena itu di samping tempatnya yang kurang strategis/baik (mungkin pada waktu itu Lebak tidak menjadi ibu kota kabupaten), maka Tn. Pennings mempunyai maksud dan merencanakan untuk memindahkan lokasi gereja atau pelayanannya ke Rangkasbitung. Hanya sayang, sebelum maksud pekerjaannya terwujud, Tuhan Yesus memanggil hambaNya - seorang perintis Injil di Banten. Mungkin kini orang tidak akan dapat lagi melihat kuburannya yang letaknya di hutan itu. Kalau masih ada mungkin orang hanya dapat melihat batu nisannya saja, karena ketika pada tanggal 20 Januari 1920, Tn. Lindeborn - ketua NZV yang ketika itu dikirim ke Jawa Barat untuk meninjau pekerjaan NZV di Lebak, beliau hanya melihat suatu tumpukan tanah di tengah-tengah tumbuh-tumbuhan alang-alang. Hanya nisan atau tumpukan tanah itulah yang menjadi ciri, bahwa di tempat tersebut Tn. Ant. A. Pennings telah menunaikan tugasnya sebagai seorang hamba Kristus. Dengan rela kuburann jiwa dan raganya untuk TuhanNya. Almarhum Tn. Ant A. Pennings adalah orang pertama yang tidak dikebumikan di tengah-tengah keluarganya, juga yang tidak disaksikan dan mendapat penghormatan terakhir kepadanya. "Berbahagialah orang yang mati karena Injil” (CHR). Beberapa bulan setelah Tn. Ant A. Pennings meninggal kembalilah Ny. Ant. A. Pennings bersama anaknya ke Nederland - Belanda. Dengan meninggalnya Tn. Ant Penning, maka terdapat banyak perubahan-perubahan dalam pelayanan Pekabaran Injil di Lebak. Pada bulan September 1902 jemaat dipindahkan dari Lebak ke Rangkasbitung. Pekerjaan Almarhum Tn. Ant. A. Pennings dilanjutkan oleh Tn. L. Tiemersma, yang ketika itu telah pindah dari Tangerang ke Tanah Abang. Juga Laban Djalimun pindah ke Cirebon untuk membantu Tn. A. Dijkstra disana. Demikian juga anggota-anggota lainnya, banyak yang pindah ke Pangharepan (Cikembar), dan ada juga yang pindah ke Cikuya. Di Lebak hanya tinggal Layar saja, kemudian ia pindah ke Pangharepan pada tahun 1908, sementara itu pada tahun 1908 ibunya meninggal di Labuan. Pekerjaan sehari-hari, terutama di sekolah dilakukan oleh Karamoy. Pembantunya yang bersama Masiin telah diangkat menjadi pembantunya dan ditempatkan di Maja, kemudian pada tahun 1903 ia dipindahkan lagi ke Rangkasbitung. Pada tanggal 2 April 1904 Tn. Tiemersma bersama Karamoy dengan bersepeda pergi ke Pandeglang, yang pada saat itu disebut "Paradijs van Banten". Disini tinggal seorang wanita yang benimur 40 tahun, berasal dari Bogor dan menikah dengan seorang suku Menado (Marsoses) bernama Emmasima. Atas pertemuan itu dan Pekabaran Injil, maka tidak lama kemudian wanita itu dibaptis bersama seorang yang bernama Winoto umur 24 tahun yang berasal dari Karanganyar. Dengan demikian maka di Pandeglang terdapat satu pos untuk Evangelisasi. Pada hari Pentakosta tahun 1905 anggota jemaat di Rangkasbitung bertambah lagi dengan dibaptiskannya sebanyak 10 orang, antara lain: Pada bulan Agustus 1903 Karamoy kembali ke Minahasa. Pada tanggal 11 Agustus 1907 Sdr. Kho Sing Kiat dipermandikan/Baptisan. la berasal dari Bekasi. Pada tanggal 23 Mei 1909, Tn. Tiemersma membaptiskan 8 orang dewasa dan 3 anak yang berasal dari Labuan. Pada tahun 1911, dua orang pembantunya diberhentikan, diantaranya Masiin Sejak tahun 1912 jemaat Rangkasbitung berada di bawah pimpinan Tn. O.v.d Brug di samping Latumahina dan Sakeus Nurdin sebagai pembantu, sedangkan yang menjadi guru adalah Akis Pai yang dipindahkan dari Palalangon. Pada tahun 1912 rumah para pembantu diperbaiki. Pada tahun 1913 tanah yang sekarang ini (Jl. Sunan Kalijaga) dipakai/dibeli olehNZV. Pada tahun 1917 di jemaat ditetapkan guru Josep Athe sebagai pengganti Boan Amban yang meninggal di Rangkasbitung. Kemudian guru Josep Atje dipindahkan ke Cigelam dan pekerjaan di Rangkasbitung dilanjutkan oleb Silas Djalimun dari tahun 1917-1919, yang kemudian beliau dipindahkan ke Bandung. Pada tanggal 22 Januari 19210 jemaat mendapat kunjungan dari Tn. M. Lindendorn, ketua NZV, dan pada kesempatan itu beliau menyempakan berkunjung ke makam Tn. Ant A. Pennings di Lebak. Dari tahun 1932 sampai dengan 1939 untuk kedua kalinya guru Silas Djalimun ditempatkan di Rangkasbitung sebagai pengganti dari guru Enos Kaaroebi. Ketika itu yang menjadi Zendeling adalah Tn. A.K. dr Groot. Pada saat itu didirikan sebuah HCS, dibangun sekolah yang sudah ada (sekarang SD Mardi Utomo), sekolahnya baru sampai kelas empat Dan sebagai kepala sekolah Tan Joe Tiek. Kemudian guru Silas Djalimun dipindahkan ke Cakung. GKP Jemaat Rangkasbitung (1942-1945) Pendeta : P. Takaleluman Kebaktian pada hari Minggu rata-rata dihadiri oleh 15 orang, dan itupun kebanyakan masih takut, dikarenakan situasi belum pulih sepenuhnya Tahun 1945 sampai dengan Mei 1956 Majelis Jemaat Majelis Jemaat Mei sampai dengan Agustus 1957 Kini anggota jemaat saat itu bertambah ada 40 orang. Pada bulan Mei 1956 dikandung maksud untuk memperbaiki bangunan gereja dan sekolah, maka diedarkanlah list, baik di Jemaat dan gereja-gereja di luar Rangkasbitung, tetapi tidak mencukupi. Karena itu Majelis jemaat meminjam uang dari Tan Tian Lie.Sekolah Rakyat (sekarang SD Mardi Utomo) pada saat itu kurang begitu maju, dan diusahakan untuk mendirikan SMP, tetapi usaha ini gagal. Mulai 1 Agustus 1957, Guru Injil Tio Peng Jat meletakkan jabatannya kemudian diganti oleh Tan Tian Lie dan selanjutnya dilanjutkan oleh MT. Iskandar. Sampai akhir tahun 1956 jumlah anggota jemaat sebanyak 60 orang. Di kalangan pemuda nampak kemajuan dengan adanya organisasi pemuda Kristen. Lambat-laun jemaat Rangkasbitung berkembang menjadi jemaat besar untuk wilayah Rangkasbitung dan sekitarnya. Sumber: Buku "Sejarah Gereja Kristen Pasundan Jemaat Rangkasbitung, Banten, Jawa Barat 1893-1958*, Christian Djalimun. |
|
||||||
![]() | |||||||