![]() |
GKP CakungAlamat: Jalan Stasion Cakung no.27 Kel. Pulo Gebang Cakung-Jakarta 13950 DATA DAN SEJARAH GKP JEMAAT CAKUNGA. DATA JEMAAT* Berdiri Jemaat -Tanggal/Bulan/Tahun : 11 November 1869 -Usia Jemaat : 136 Tahun * Jumlah KK : 129 KK (456 jiwa) * Jumlah Anggota Baptis : 116 jiwa, (belum Baptis 19) * Jumlah Anggota Sidi : 331 jiwa B. PERIBADATAN
Kebaktian Umum (Minggu): I Pkl. :09.00 s/d 11.00
II Pkl. :18.00 s/d 19.30a. a. Kebaktian Rumah Tangga
Hari: Rabu Pkl.: 19.00
b. Kebaktian SMKA
Hari: Minggu, Pkl.: 07.30 s/d 08.30
c. Keb. Remaja
Hari : Minggu Pkl.: 16.00 s/d 17.30
d. Keb. Pemuda
Hari: Sabtu Pkl.: 19.30 s/d 20.30
e. Keb. Wanita
Hari : Kamis Pkl.: 1600 s/d 17.30
f. Keb. Pria
Hari : Jumat Pkl.: 19.00 s/d 20.30
g. Keb. Lansia
Hari : Sabtu Pkl.: 10.00 s/d 12.00
h. Keb. NPKDS (sebulan sekali)
Hari : Sabtu (I) Pkl.: 19.30 s/d 20.30
C. SEJARAH (singkat) JEMAATSejak tahun 1865 di sini sudah ada sebuah bangunan gereja. Ketika itu yang menjadi tuan tanah adalah Tuan Robertson dan yang menjadi Evangelist ialah Tuan JOHANES VREDE. 11 November 1869, di Jakarta telah dipermandikan 26 orang Tionghoa dan Bumiputera dari tempat ini, yang dilayani oleh Zendeling Harmsen. Peristiwa ini dianggap sebagai hari jadi Jemaat. Kemudian sejak tahun 1872 di jemaat ini dilayani oleh Mr. ANTHING yang berdiam di Jatinegara. 16 Maret 1886, Tuan ALBERS bersama LUKAS untuk pertama kalinya meninjau jemaat ini, yang sementara itu telah diserahkan kepada N.Z.V. Sehari-hari Jemaat dipimpin oteh Guru ANANIAS SAIRIN, yang pada tahun 1898 diganti oleh MATIAS SAIRIN, putranya. Tahun 1912 didirikan bangunan gereja yang baru di Bojongrangkon dan di samping itu ada juga sebuah Poliklinik yang diurus oleh Bapak JOESEH BAIIN. Tahun 1920, Tuan A.J. BLIEK diganti oleh Tuan A. VARMEER. Pada tahun itu juga Guru SALMON EMPI di pindahkan kesini, setelah beliau dipindahkan ke Jatinegara, pekerjaannya dilanjutkan oleh Guru SINEN TJENTENG, yang kemudian ditahbiskan sebagai Pendeta GKP yang pertama-tama dan satu-satunya di tempat ini. Penghidupan di tempat ini memang sangat sulit, sehingga tak heran banyak yang pindah bekerja di kota. Kini masih ada hanya satu atau dua keluarga saja antara lain Bapak SAMUEL SAIRIN, Putranya Bapak MATIAS SAIRIN (alm). Bangunan-bangunan yang dulu kini sudah tak nampak lagi, kecuali bangunan gereja yang kecil dan bangunan sekolah (dipakai oleh Pemerintah). Sumber : Buku Kursus Teologi Terapan I GKP Klasis Wil Jakarta |
|
||||||
![]() | |||||||