Mailing List GKP

Tentang GKP
Lingkung GKP
Klasis Purwakarta
Klasis Bogor
Klasis Priangan
Klasis Jakarta
Klasis Cirebon
Lembaga
Lain-lain

GKP Ciranjang

Alamat: Depan Stasion/Halte KA Ciranjang-Cianjur
Telepon: Rumah MJ: Bp. Arta/Bp. Tirta: 0263-321543
Rumah Pendeta: 0263-323813

Gembala yang melayani :

1943 – 1949 : belum ada mereka masih kelompok HOEVE (BLPP Cihea)

1949 – 1978 : Pendeta GKP Jemaat Palalangon dan GKP Jemaat Pacet.

1978 – 1984 : Konsulen (Pdt. Robby E. Rumbayan)

1984 – 1990 : Konsulen (Pdt. Sutarno, S.Th).

1990 – 1994 : Konsulen (Pdt. Toni G. Tanos, S.Th)

1994 – sekarang : Pdt. Sukaiman Jian SmTh.

Jemaat GKP Ciranjang semula berasal dari jemaat Kristen yang bertempat tinggal di Hoeve (BLPP Cihea). Namun, pada masa pendudukan Jepang, orang-orang Kristen di Hoeve tersebut merasa tidak aman. Oleh sebab itu, kira-kira pada tahun 1943, mereka mengungsi ke Desa Bojongsari, Kecamatan Ciranjang.

Di tempat baru itulah mereka membeli tanah dan bekerja sebagai petani. Jumlah mereka kemudian bertambah dengan beberapa keluarga yang datang dari Pasir Nangka, Rawaselang. Akhirnya, mereka bersama-sama membangun gereja di sana dan hidup tentram sampai pertengahan tahun 1946. Ketika masa revolusi fisik atau masa perjuangan melawan tentara Belanda mulai menghangat,

keamanan/ketenteraman mereka menjadi terganggu, khususnya oleh tindakan barisan pejuang kemerdekaan yang menamakan diri “Barisan Hisbullah”. Para “pejuang” itu memakai alasan bahwa agama Kristen adalah agama Belanda dan orang-orang Kristen adalah antek-antek Belanda. Oleh sebab itu, ketakutan selalu membayangi orang-orang Kristen di sana.

Situasi yang genting itu membuat kebaktiaan tidak dapat dilaksanakan di gereja, tetapi di rumah-rumah. Itu pun dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Dalam keadaan seperti itu, dua orang pemuda Kritsen, Hirkanus Kaian dan Raleigh Djalip, secara sembunyi-sembunyi melarikan diri ke Kota Ciranjang (pada waktu itu tentara Belanda sedang menduduki Kota Ciranjang) dan melaporkan situasi tersebut kepada tentara Koningkliyke Landmacht (KL), tentara Kerjaaan Belanda.

Beberapa hari kemudian, menjelang malam, dua orang pemuda yang melapor itu kembali ke Bojongsari diantar oleh kurang lebih satu peleton tentara Belanda. Pada malam itu juga semua orang Kritsen di Bojongsari diperintahkan berkemas untuk diangkut ke Kota Ciranjang. Pada saat itu mereka hanya membawa barang seperlunya saja karena tempat mereka berjauhan satu sama lain. Baru pada keesokan harinya mereka dapat berkumpul di suatu tempat, kemudian lebih kurang jam 10.00 pagi, mereka berangkat ke Kota Ciranjang.

Setibanya di Ciranjang, mereka menempati rumah-rumah penduduk yang kosong karena penghuninya mengungsi. Mereka yang ikut ke Ciranjang itu adalah keluarga:

1) Saniin Djalip, 6) Anton Yesaya, 11) Warmi Lembek.

2) Timotius Djalip, 7) Yanus Dantji,

3) Ruben Djalip, 8) Y. Kaian,

4) Samiun Raihin, 9) Warnus Lembek,

5) Rusup Raihin, 10) Penihas Pattisina,

Di Ciranjang mereka mengadakan kebaktian Minggu di rumah Bpk. Saniin Djalip (almarhum) di Sukasari, Ciranjang. Namun, kurang lebih dua tahun kemudian keluarga P. Pattisina, Ruben Djalip, dan Timotius Djalip pindah ke Lampung. Keluarga Warnus Lembek dan Yunus Dantji pindah ke Pasir Sereh. Keluarga Y. Kaian dan keluarga Anton Yesaya pindah ke Palalangon. Dengan demikian, yang masih tinggal di Ciranjang adalah keluarga Bapak Saniin Djalip, Bapak Samiun Raihin, dan Bapak Rusup Raihin. Mereka itulah orang-orang Kristen pertama yang menetap di Ciranjang.

Setelah keadaan aman, pada akhir tahun 1949, secara berangsur-angsur datanglah keluarga Bapak Arta Yunus, Bapak Salda Bonas, Bapak Djasip Aen, dan Bapak Muntari Endong sehingga jemaat pun semakin bertambah.

Kegiatan kebaktian Minggu dan kebaktian rumah tangga dipimpin oleh Bapak Saniin Djalip dan kemudian oleh Bapak Rusup Raihin. Karena pada saat itu kegiatan ibadah Minggu masih bergabung dengan jemaat GKI, mereka juga dilayani oleh penginjil Sitorus dari GKP Cipanas dan penginjil Citung Hevant dari GKI.

Setelah Bapak Rusup Raihin meninggal, kebaktian Minggu dipimpin oleh Bapak Arta Yunus dan Bapak Salda Bonas, dibantu oleh pendeta konsulen dari Palalangon (Pdt. Dany Empi).

Pada tahun 1971 terjadilah pemisahan kebaktian antara GKP dan GKI. Kegiatan kebaktian Minggu jemaat GKP diadakan di rumah Bapak Arta Yunus, sedangkan jemaat GKI di rumah Bapak Buntarmin. Tahun itulah yang merupakan berdirinya Pos Kebaktian GKP Ciranjang.

Setelah dilayani oleh Pdt. Dany Empi, pelayanan kemudian dilakukan oleh Bpk. Wira Sairin. Beberapa tahun kemudian, tenaga untuk pelayanan bertambah, yaitu hadirnya Bpk. Karta Endong (1976) dan Bpk. Michael Untailawan (1978).

Sehubungan dengan datangnya guru-guru inpres asal Maluku, jumlah jemaat pun bertambah. Bertambahnya jumlah jemaat itu mencetuskan pemikiran untuk membangun sebuah gedung gereja. Pada tahun 1976, atas swadaya anggota jemaat, akhirnya dapat dibeli sebidang tanah di kampung Pasanggrahan. Namun, karena lokasi tersebut tidak disetujui oleh masyarakat setempat (menolak keberadaan gedung gereja di sana), tanah tersebut dijual, lalu dibelikan sebidang tanah seluas 280 m2 (20 tumbak) di Kampung Sukasari.

Namun, di lokasi yang baru itu juga mendapat tantangan dengan alasan yang sama dari masyarakat. Terpaksa tanah tersebut dijual lagi dan dibelikan sebidang tanah di dekat Kampung Pasanggrahan dengan luas 320 m2 (20,5 tumbak).

Karena masih juga mengalami kesulitan, akhirnya tanah tersebut ditukarkan dengan tanah Bapak Arta Yunus di Sukasari yang memiliki luas 205 m2 (15 tumbak).

Sambil mengusahakan dana yang cukup untuk membangun gedung gereja, dengan dana yang telah ada, dibelilah rumah Bpk. Tatang Hermawan pada tahun 1983. Setelah itu, rumah tersebut dipugar, dan bulan Februari 1983 mulai digunakan sebagai tempat ibadah.

Rumah ibadah tersebut, walaupun masih darurat, diresmikan melalui suatu upacara resmi yang dihadiri oleh Tripika Kecamatan Ciranjang, BP Sinode GKP, KUA Ciranjang, dan Depag Provinsi (Kepala Bimas Kristen Protestan). Sejak itulah kebaktian Minggu di rumah Bapak Arta Yunus beralih ke gedung gereja.

Mengingat terus bertambahnya jumlah anggota jemaat, terutama dengan datangnya guru-guru inpres dari Maluku, direncanakanlah pembangunan gedung gereja yang permanen.

Atas berkat Tuhan, melalui kerjasama yang baik antara anggota jemaat, dukungan BPS Sinode, Depag (Bimas Kristen Protestan), dan para dermawan/donatur, terwujudlah sebuah gedung gereja yang baru, yang merupakan suatu langkah maju yang dicapai Pos Kebaktian Ciranjang.

Seiring dengan berjalannya waktu, Pos Kebaktian Ciranjang pun semakin berkembang dan menjadi jemaat yang mandiri, yaitu GKP Jemaat Ciranjang.